23.2.09

Dewi & Wulan

Sabtu, 21 Februari 2009, Somerset Apartment, Permata Hijau Jakarta.
Setelah cukup lama menahan keinginan berfoto-ria karena musim hujan, akhirnya undangan menarik datang juga... Apalagi kali ini Saya ada 2 lensa baru dan beberapa lensa lama yang baru selesai di overhaul. Dan yang paling utama, bodi kamera baru, Canon 50D dengan bantuan focus screen Canon Ef-S Precision Matte.

Foto session berlangsung di 2 lokasi, yaitu indoor di dalam show-unit apartment dan outdoor di pool area yang asri.

Nikkor 28/2.0 Ai







Nikkor 85/1.8 Ai





Nikkor 105/2.5 Ai



Nikkor 105/1.8 AiS
Nah acara hunting ini menjadi ajang pertama untuk memainkan lensa favorit saya ini. Hasilnya memang asli top!






Carl Zeiss Planar T* 50/1.4 (Contax)
Lensa ini juga baru. Memang pantas lensa ini disebut-sebut sebagai lensa tertajam di kelas 50mm dan salah satu lensa legendaris dari Carl Zeiss.






Carl Zeiss Sonnar T* 135/2.8 (Contax)







Canon Precision Matte Focussing Screen Ef-S
Karena produk ini asli buatan Canon, pemasangannya jadi sangat mudah dan akurat. Tak perlu teknisi. Focus Screen yang dirancang khusus untuk fokusing manual ini menjadikan vewfinder lebih gelap sekitar 20% dibanding aslinya. Karena itulah setting di camera perlu dirubah melalui menu di camera dan tinggal dipilih saja focus screen Ef-S. Sangat mudah. Setting harus dirubah sebagai kompensasi pembacaan meter light yang berubah over.

Di viewfinder, tampilannya tidak berubah. Tidak ada split screen atau kotak-kotak. 9-point focus juga tetap muncul dan berfungsi sesuai aslinya. Yang berbeda adalah Depth of Field lebih terlihat. Jadi kita bisa melihat lebih tegas antara out-focus dan in-focus. Nah inilah yang membuat mudah kita saat fine tuning untuk mendapat fokus yang tepat. Lebih enaknya lagi, saat Selective Focusing di off-center, kita tidak perlu lagi memainkan salah satu dari 9-point selective focus. Cukup anda komposisi di viewfinder dan mainkan fokus sampai objek yang anda ingin fokus menjadi tajam. Di manapun di dalam frame.

Keuntungan lain adalah anda bisa melihat langsung DoF yang diinginkan sesuai bukaan aperture lensa. Untuk bokeh, memang bisa dilihat area Out-of-Fokus nya, tapi karakter bokehnya lensa tidak terlalu pronounced.


20.2.09

Carl Zeiss Jena 58/2 Biotar T

Lensa Carl Zeiss Jena 58/2 Biotar T ini saya peroleh dari Polandia melalui e-bay dengan bantuan seorang teman baik. Lensa CZJ 58/2 Biotar T ini memiliki nomor seri 3644257 yang menunjukkan tahun diproduksi circa tahun 1952-1955. Biotar adalah kode klasik untuk rancangan lensa Zeiss sebelum era Perang Dunia II, yaitu rancangan Planar asimetris. Rancangan ini memiliki konfigurasi 6 elemen dalam 4 group. Khusus untuk seri Biotar, element depan dibuat lebih besar daripada elemen belakang.


Yang menarik bagi saya terhadap lensa ini adalah empat hal. Pertama desain bodi lensa yang berwarna silver berbahan alumunium memberikan tampilan yang klasik dan unik dari lensa ini. Kedua adalah dengan bodi lensa yang dibuat dari alumunium maka menjadikannya sebagai lensa yang kokoh dan didesain untuk bertahan sepanjang masa., berbeda dengan kebanyakan lensa modern yang berbahan plastik. Ketiga adalah dikarenakan oleh reputasi seri Biotar yang legendaris. Sebenernya lensa ini bukan termasuk lensa legendaris dari jajaran lensa Calr Zeiss. Lensa seri Biotar yang highly regarded adalah Carl Zeiss Jena Biotar 75/1.5. Lensa ini diakui reputasinya dalam tone warna yang akurat, ketajaman, dan signature bokeh yang khas yaitu swirly bokeh. Namun karena lensa 75/1,5 Biotar ini sangat jarang dan kalaupun ada harganya luar biasa maka, saya cukup puas dengan lensa 58/2 Biotar. Paling tidak lensa 58/2 Biotar ini masih membawa ciri khasnya yaitu swirly bokeh meski tidak sekuat kakaknya. Faktor keempat yang menarik perhatian saya adalah jumlah blade aperturenya yang fenomenal, yang tidak mungkin ditemui di lensa modern, yaitu 12 buah. Seri Biotar memiliki beberapa versi jumlah blade aperturenya ada yang 10, 12 dan 17.

Lensa Carl Zeiss Jena 58/2 Biotar T yang saya peroleh termasuk dalam kondisi ”Excellent” dengan artian bahwa kondisi body lensa yang masih relatif baik, yaitu goresan-goresan tipis yang ada masih dapat diterima mengingat umurnya yang relatif sudah uzur. Terdapat beberapa gelembung di optik dan beberapa debu kecil didalam elemen optik. tetapi tidak berdampak pada gambar yang dihasilkan. Lensa ini memiliki lensa ulir M42. Untuk dapat dipakai di kamera Canon EOS 30D saya, saya harus menggunakan adapter M42-to-EOS adapter, yang dilengkapi dengan focus confirmation chip yang saya peroleh dari www.tagotech.com Singapura.

Lensa ini meski hampir seluruh bodinya terbuat dari metal, namun masih relatif ringan dan pas untuk dipegang. Untuk melakukan fokusing, terdapat ring model belimbing yang lekukannya pas dengan penempatan ibu jari dan jari tengah untuk mengatur titik fokus. Yang unik disini adalah bahwa putaran fokusing-nya mendekati 360 derajat. Model ini sering disebut model long-throw. Dengan desain seperti ini dapat meningkatkan presisi ketika fokusing, namun tidak cocok untuk menangkap objek yang bergerak dengan cepat. Lensa yang saya miliki putaran fokusing-nya cukup berat menunjukkan bahwa lensa ini perlu di CLA lagi. Pengaturan aperture dilakukan pada ring didepan dengan mencocokkan angka 2-22 dengan tanda panah merah . Yang menarik disini adalah, kita dapat membuat batasan F number yang akan digunakan, dengan menset batas aperture dengan cara menarik ring aperture ke arah belakang dan mencocokkan titik merah dengan F/number yang dikehendaki sebagai batas aperture.

Sharpness

Performa lensa ini cukup menjanjikan sebagai lensa (hampir) makro maupun lensa potrait. Saya katanya (hampir) makro karena dengan jarak terdekat (0,5 m) objek-objek seperti bunga-bungaan masih dapat terekam dengan baik dan indah. Di wide open agak soft namun masih sangat baik, tetapi stop-down mulai F/2.8 ketajammnya semakin menggigit.






Crop 100% @ wide open

Ketajaman @ F/4


Tone

Tonal warna cenderung warm memiliki rendering warna yang halus. Kontras tidak over, namun bagi anda penyuka atau terbiasa lensa modern yang memiliki kontras tinggi, maka settingan kontras perlu ditambahkan. Berikut beberapa contoh tonal warna lensa. Setting kamera contrast 0 dan saturasi 0 semua.






Bokeh

Karakter bokeh lensa ini cukup diffused dan halus, namun memiliki signature yang khas. Pola bokehnya tidak berbentuk circular seperti pada umumnya fast lens, tetapi lebih berbentuk oval. Selain itu, dengan set-up posisi objek dan pilihan background yang tepat, maka akan diperoleh efek swirl pada areas OOF.

Bokeh @ wide open

bokehnya yang lembut di wide open

pola bokeh highlight bokeh yang berbentuk oval

Swirly bokeh @ wide open

lagi swirly bokeh @ wide open

lagi swirly bokeh @ wide open

Akhir kata, lensa ini meski bukanlah lensa legendaris dan cukup mudah ditemukan di e-bay masih sangat layak untuk dimiliki. Bagi orang-orang yang memiliki selera image klasik (kontras minimal, warna alami tidak terlalu pekat, serta bokeh pattern yang unik) maka lensa inilah pilihannya. Alternatif lain yang lebih murah adalah lensa Helios-44 58/2 produksi Russia. Lensa Helios-44 58/2 merupakan copy dari 58/2 Biotar T dan cukup banyak ditemukan di pasar Indonesia.

1.2.09

Battle of 50s #7: Carl Zeiss Tessar T* 45/2.8

My Walk-around Manual Lens!

Lensa Zeiss Pancake. Itu adalah istilah untuk lensa yang mungil, ringan tapi bagus ini. Ketebalan lensa tidak lewat 20mm. Focusing dan setting diafragma masih gampang, tapi kesulitannya adalah saat memasang dan melepas dari kamera karena tidak ada grip sama sekali. Apalagi dengan penggunaan adapter ke bodi Canon EOS yang tebalnya hanya 1.5mm.


@ f/2.8

Nah perpaduan bodi EOS 450D yang kecil dengan lensa mungil ini menyenangkan buat Saya. Saat jalan-jalan bersama keluarga, battery grip saya lepas dan di tas kamera kecil saya siapkan diffuser untuk pop-up flash yang murah meriah. Hasilnya? Sebuah DSLR 12mpxl yang efisien (kompak, ringan) buat dibawa2 dan efektif buat street foto karena hasil foto outdoor dan indoor yang jauh lebih bagus daripada saat saya masih menggunakan lensa Canon EF 35/2 sebelumnya.

@ f/4

@ f/4 - misfocus karena si kecil tidak mau diam sebentar untuk di foto

Menurut saya, untuk orang-orang yang sering membawa kamera tapi kurang sreg dengan kamera pocket, kombinasi 450D (atau 1000D), adapter C/Y - EOS yang ada AF chip dan lensa ini merupakan pilihan yang bagus sekali, asalkan mau bermanual ria. Memang harga lensa ini tidak murah, sedikit lebih mahal daripada lensa EF 50/1.4.

@ f/2.8 + pop-up flash + diffuser

SHARPNESS:
Ketajaman lensa 80an ini cukup bagus di bukaan penuh walau muncul sedikit soft-glow. Stop down satu klik di f/4 soft-glow sudah hilang dan crispy sharp di f/5.6. Soft-glow di bukaan penuh hanya muncul untuk objek yang terang dan kontras. Tapi untuk portrait dan penggunaan di lighting biasa (atau bahkan indoor dengan bantuan pop-up flash) hasilnya sangat bagus.

@ f/2.8



@ f/2.8



@ f/4 - detil seperti urat-urat dan rambut-rambut halus jelas terlihat



@ f/5.6


TONE & COLOR:
Kalo masalah ini tidak perlu ragu lagi. Lensa-lensa Carl Zeiss memang dahsyat dalam urusan warna dan gradasi tonalnya. Sebelum memiliki lensa Pancake ini, Saya selalu membawa lensa EF 35/2 saat ada pergi makan keluarga, atau acara keluarga di rumah orang tua. Hasil fotonya sih oke. Tapi setelah memakai lensa Carl Zeiss ini, wah hasilnya beda sekali. Saya cantumkan dibawah sample menggunakan EF 35/2 sebagai perbandingan untuk foto indoor. Keduanya menggunakan pop-up flash yang diberi diffuser.

Canon EF 35/2 + pop-up flash kamera + diffuser

Carl Zeiss Tessar T* + pop-up flash kamera + diffuser yang sama
Detil dan lekukan di wajah lebih tegas. Tone juga lebih matang.

Shot menggunakan pop-up flash kamera + diffuser

Skin tone natural, tidak perlu adjust di photoshop

Tonal warnanya natural dan nyaman dimata

Skin tone - My boy's first day of school... memakai seragam baru

BOKEH:
Lensa bukaan f/2.8 memang hasil bokehnya tidak akan sehebat f/1an. Karakter bokeh Zeiss tetap muncul, walau tidak sehalus Planar T* 50/1.7.


Bokeh @ f/2.8

Bokeh @ f/2.8

Bokeh @ f/2.8

Bokeh @ f/2.8

Carl Zeiss Tessar T* 45/2.8 ini memang bukan lensa koleksi. Lensa ini bagus, tapi hanya sebatas untuk street-photo. Untuk lebih dari itu Carl Zeiss siap dengan lensa yang jauh lebih hebat, seperti Planar T* 50/1.7 atau 50/1.4 yang legendaris. Dan buat saya, saat butuh kamera yang kompak dan ringan untuk dibawa-bawa, lensa ini sekarang menjadi andalan.