30.1.09

Happy Lunar New Year!

Nikkor 50/1.4 AiS @ f/1.4

Canon EF 85/1.2L @ f/1.6

Perayaan imlek tahun ini terlihat lebih meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di mal-mal terkemuka, dekorasi yang serba merah meriah dipadukan dengan banyak acara-acara yang menarik untuk ditonton.

Asahi Pentax S-M-C Takumar 50/1.4 @ f/2

Asahi Pentax S-M-C Takumar 50/1.4 @ f/2

Salah satunya adalah seni Barongsai yang ada di hampir semua mal di Jakarta. Salah satunya adalah yang digelar di Pondok Indah Mal. Kebetulan mal itu berdekatan dengan tempat kerja, jadi cukup praktis buat saya berkunjung untuk menonton. Tapi sayangnya saya tidak berhasil menonton beberapa acara selain Barongsai, yang mana sebenarnya juga tak kalah menarik.

Carl Zeiss Planar T* 50/1.7 @ f/2

Asahi Pentax S-M-C Takumar 50/1.4 @ f/2

Canon EF 85/1.2L @ f/1.6

Canon EF 85/1.2L @ f/1.4

Canon EF 85/1.2L @ f/1.6

Beberapa hari menjelang hari besarnya, Saya mencoba berkunjung untuk hunting foto di salah satu vihara di dekat rumah. Ternyata Saya datang terlalu awal, disaat vihara masih sepi dan belum di dekor meriah. Rencana saya untuk mendapat foto-foto indah dari orang-orang yang sedang beribadah pun tidak terlaksana.

Nikkor 105/1.8 AiS @ open-wide

Hari itu kebetulan saya baru menerima lensa inceran sejak lama, yaitu Nikkor 105mm f/1.8. Impresi pertama adalah tajam! Ketajaman khas Nikkor, bahkan di f/1.8 pun hasilnya sip!

Nikkor 105/1.8 AiS @ f/4

Nikkor 105/1.8 AiS @ f/2.8

18.1.09

I Love 85s !

Menyukai portrait, berarti mengenal baik lensa 85mm. Walau di kamera 1.6x cropped sensor lensa 85mm akan menjadi 130an mm, tetap saya menyukainya. Mengapa? Pertama karena dengan focal range segitu jarak foto cukup ideal untuk menangkap ekspresi natural si objek, kedua, kemampuan isolasi objek (jarak vs bokeh) dan ketiga, ukuran dan bobot lensa masih nyaman untuk digunakan.

Canon EF 85/1.2L Mk II

Di banyak merek, lensa 85mm menjadi flagship yang memang di rancang khusus untuk kebutuhan portraiture. Konstruksi lensa dibuat sedemikian rupa sehingga kemampuan area OoF (aka bokeh) menjadi lebih unik dan kemampuan optik menangkap detil secara sempurna tapi tetap memberi sentuhan soft pada tekstur kulit.

Saya belum lama menggemari portrait dan mencoba lensa-lensa. Dan baru sekarang saya mulai mengerti mengapa bagi banyak fotografer (khususnya portrait & beauty) sharpness is not so important. Yang lebih mereka cari adalah karakter unik yang dimiliki si lensa. Sedangkan crispy sharp malah akan membuat portrait tidak elegan karena tekstur kulit yang terlalu tegas.

Carl Zeiss Sonnar T* 85/2.8 (Contax)

Nah melalui artikel ini, saya menyertakan beberapa sample dari sedikit koleksi lensa 85mm yang saya punya agar Anda bisa menilai sendiri bagaimana karakter dan keunikan yang dimiliki setiap lensa ini. Saya sengaja tidak menulis pendapat saya mengenai setiap lensa-lensa ini agar Anda bisa melihat dan menentukan sendiri apa dan bagaimana signature-nya.

Koleksi lensa 85mm saya juga tidak banyak, dan bukan juga merupakan lensa legendaris yang mahal. Tapi dari sedikit ini, saya sudah cukup puas karena bisa memiliki alternatif dalam setiap gaya portrait yang ingin saya terapkan.


Canon EF 85mm f/1.2L Mark II - 2008

Lensa ini memang bukan lensa manual, tapi lensa ini merupakan lensa top Canon untuk range 85mm, sekaligus merupakan lensa generasi paling moderen dari lensa 85mm saya lainnya. Jadi sample ini bisa digunakan sebagai patokan apakah lensa moderen harus menjadi yang terbaik dibanding lensa tua.

Catatan : Untuk bukaan apertur, bisa dilihat di data EXIF nya masing-masing karena sample sudah lama dan lupa.


color edited



color edited





color edited


Carl Zeiss Sonnar T* 85mm f/2.8 (Contax) - 1980an

Lensa ini tidaklah setenar Carl Zeiss Planar T* 85/1.4, namun lensa f/2.8 lebih jarang beredar di pasaran bekas (ebay dan lainnya) karena biasanya pemilik akan sangat puas dengan performanya dan tidak mau menjual. Bentuk lensa 85mm ini paling kecil dibanding lensa 85mm lainnya dan beratnya pun sangat comfy untuk dibawa-bawa. Saya suka memakai lensa ini saat piknik outdoor dengan keluarga.

@ f/2.8 - Contrast & saturation -2

@ f/4 - image unedited

zoom in

@ f/2.8 - image unedited

@ f/2.8 - image unedited. Warna merah karena foto dibawah parasol warna merah

@ f/2.8 - image unedited

@ f/4 - image unedited


Nikkor 85mm f/1.8 Ai - 1980an

Lensa ini juga tidak sepopuler Nikkor 85/1.4 yang legendaris itu. Saya tertarik membeli karena unsur rarity nya. Menurut forum luar, lensa ini hanya beredar dalam waktu sebentar, sebelum digantikan dengan Nikkor 85/2.0, sehingga jumlahnya juga relatif sedikit dan hanya ada dalam versi Nikkor-H dan Ai.

Lensa ini belum lama saya dapatkan, sehingga belum sempat digunakan untuk model shoot.
Jadi.. inilah foto-model favorit saya... anak-anak sendiri.


@ f/1.8 - image unedited

@ f/1.8 - image unedited, lighting indoor TL

@ f/1.8 - image unedited

@ f/1.8 - image unedited


Helios-40 85mm f/1.5 (m42) - 1960an

Lensa ini adalah pinjaman seorang teman yang membeli karena kemampuan bokehnya yang melegenda. Lensa buatan Rusia tahun 1961 ini sangat unik dalam penampilan. Bodi terbuat dari alumunium sehingga warna silvernya sangat menyita perhatian orang saat kita memakainya. Ukuran lensa nya besar gendut (filter 66mm) beratnya 1 kg. Aperture masih menggunakan manual pre-set. Bukan lensa yang nyaman untuk dibawa-bawa. Tapi hasilnya?

@ f/1.5 - image unedited

@ f/1.5 - image unedited

@ f/1.5 - saturasi -2, add layer yellow tint

@ f/1.5 - contrast and saturation -2

@ f/1.5 - image unedited


My collection of 85's :



3.1.09

Battle of 50s #6 : Meyer-Optik Gorlitz Oreston 1.8/50

Beautiful bokeh !


Sepertinya sudah tidak banyak lagi yang akan saya tulis tentang lensa ini, karena sudah pernah saya posting di artikel sebelumnya (Meyer Oreston = Bokeh Madness). Lensa Oreston ini memiliki karakter (signature) yang khas dibanding lensa 50mm lainnya. Renderingnya yang soft, warnanya yang kecoklatan dan bokehnya yang lembut membuat portrait tampil 'vintage look'.

sharpness di f/1.8

SHARPNESS :
Dibanyak artikel dan review dibahas bahwa lensa ini memiliki ketajaman yang cukup bagus. Tapi tidak dengan lensa saya. Oreston saya kondisinya memang sudah bukan mint, sekitar 80%an dengan optik depan yang ada bekas-bekas dibersihkan. Hasil gambar di f/1.8 sampai dengan f/2 soft dengan glowing veil di area kontras. Di f/2.8 hasilnya lumayan tajam, dan mulai f/4 baru tajam sekali tapi dengan resolusi yang tidak sebagus Carl Zeiss.

sharpness di f/1.8

f/2.8



f/4


TONE & COLOR :
Nah ini yang membuat saya tertarik untuk mencoba lensa buatan tahun 1960 ini. Lensa ini masih single coating. Warna yang dihasilkan warm kecoklatan, terutama di saat under-exposed.

Color sangat warm, bahkan warna hijau daun pun cenderung kuning



Skin-tone

BOKEH :
Saya rasa tidak perlu lagi diulas. Anda bisa menilai sendiri keunikan dari Meyer Oreston ini. Mungkin tandingannya hanya lensa Helios 40, dalam hal background yang diffused dan creamy.


Almost totally diffused @ f/1.8

Saya suka menggunakan lensa ini di f/2
karena detil lebih jelas tapi tetap soft dan bokehnya juga masih cukup lembut


f/2.8

Lensa Oreston ini jarang saya mainkan karena untuk menutup aperture harus menekan sebuah tombol kecil yang agak merepotkan buat saya. Tapi kadang saya ingin membuat portrait anak dengan artistik tanpa banyak photoshop, maka Oreston 50/1.8 ini dan abangnya, Orestor 135/2.8, menjadi andalan.