
Sabtu, 26 April kemarin..
Saya kembali berfoto di Kota Tua Jakarta. Kali ini mencoba masuk ke gedung rusak yang belum pernah kita masuki sebelumnya. Berbekal pengalaman sebelumnya, Saya tidak membawa lensa-lensa panjang. Cukup lensa wide dan normal karena situasi di dalam gedung yang biasanya tidak cukup luas untuk bermain tele.
Nikkor 20/2.8 AiS
Baru kali ini Saya membawa lensa wide manual satu-satunya. Lensa ini lebih banyak Saya gunakan untuk kerjaan foto interior. Yang Saya suka dari lensa ini adalah kemampuannya melawan flare dan CA. Lensa Canon EF seri L wide Saya pun masih kalah hebat dalam menghasilkan gambar yang bersih dari CA di banding lensa buatan tahun 80an ini. Lensa Nikkor ini lumayan sulit mencarinya sekarang.
Memang butuh ilmu tersendiri untuk bisa bemain dengan lensa wide karena lebarnya pandangan,sehingga komposisi benar-benar harus menjadi pertimbangan utama

Meyer-Optik Gorlitz Oreston 50/1.8
Sudah lumayan lama Saya tidak bermain dengan lensa ini. Di hunting kali ini, lensa mono-coating tahun 60an ini kembali membuktikan keunikan magisnya dalam menghasilkan foto yang cantik dalam hal warna dan bokeh. Sungguh jauh berbeda dan berkarakter dibanding lensa-lensa moderen.




Carl Zeiss Planar T* 50/1.4 Contax
Lensa ini Saya bawa untuk suasana indoor yang minim cahaya. Tapi ternyata malah lebih banyak digunakan oleh Saya dan oleh rekan lain yang ingin mencoba bermain dengan lensa manual. Lensa buatan Jepang ini memang racun yang amat ampuh untuk membuat kejutan kepada para pengguna lensa AF yang pertama kali mencoba lensa manual, dan pada akhirnya mereka tertarik untuk mengkoleksi lensa-lensa manual. hahaha.....
Models : Maya dan Puput.. fantastic and wonderful girls to work with.










0 komentar:
Poskan Komentar