Lensa Carl Zeiss Jena 58/2 Biotar T ini saya peroleh dari Polandia melalui e-bay dengan bantuan seorang teman baik. Lensa CZJ 58/2 Biotar T ini memiliki nomor seri 3644257 yang menunjukkan tahun diproduksi circa tahun 1952-1955. Biotar adalah kode klasik untuk rancangan lensa Zeiss sebelum era Perang Dunia II, yaitu rancangan Planar asimetris. Rancangan ini memiliki konfigurasi 6 elemen dalam 4 group. Khusus untuk seri Biotar, element depan dibuat lebih besar daripada elemen belakang.
Yang menarik bagi saya terhadap lensa ini adalah empat hal. Pertama desain bodi lensa yang berwarna silver berbahan alumunium memberikan tampilan yang klasik dan unik dari lensa ini. Kedua adalah dengan bodi lensa yang dibuat dari alumunium maka menjadikannya sebagai lensa yang kokoh dan didesain untuk bertahan sepanjang masa., berbeda dengan kebanyakan lensa modern yang berbahan plastik. Ketiga adalah dikarenakan oleh reputasi seri Biotar yang legendaris. Sebenernya lensa ini bukan termasuk lensa legendaris dari jajaran lensa Calr Zeiss. Lensa seri Biotar yang highly regarded adalah Carl Zeiss Jena Biotar 75/1.5. Lensa ini diakui reputasinya dalam tone warna yang akurat, ketajaman, dan signature bokeh yang khas yaitu swirly bokeh. Namun karena lensa 75/1,5 Biotar ini sangat jarang dan kalaupun ada harganya luar biasa maka, saya cukup puas dengan lensa 58/2 Biotar. Paling tidak lensa 58/2 Biotar ini masih membawa ciri khasnya yaitu swirly bokeh meski tidak sekuat kakaknya. Faktor keempat yang menarik perhatian saya adalah jumlah blade aperturenya yang fenomenal, yang tidak mungkin ditemui di lensa modern, yaitu 12 buah. Seri Biotar memiliki beberapa versi jumlah blade aperturenya ada yang 10, 12 dan 17.
Lensa Carl Zeiss Jena 58/2 Biotar T yang saya peroleh termasuk dalam kondisi ”Excellent” dengan artian bahwa kondisi body lensa yang masih relatif baik, yaitu goresan-goresan tipis yang ada masih dapat diterima mengingat umurnya yang relatif sudah uzur. Terdapat beberapa gelembung di optik dan beberapa debu kecil didalam elemen optik. tetapi tidak berdampak pada gambar yang dihasilkan. Lensa ini memiliki lensa ulir M42. Untuk dapat dipakai di kamera Canon EOS 30D saya, saya harus menggunakan adapter M42-to-EOS adapter, yang dilengkapi dengan focus confirmation chip yang saya peroleh dari www.tagotech.com Singapura.
Lensa ini meski hampir seluruh bodinya terbuat dari metal, namun masih relatif ringan dan pas untuk dipegang. Untuk melakukan fokusing, terdapat ring model belimbing yang lekukannya pas dengan penempatan ibu jari dan jari tengah untuk mengatur titik fokus. Yang unik disini adalah bahwa putaran fokusing-nya mendekati 360 derajat. Model ini sering disebut model long-throw. Dengan desain seperti ini dapat meningkatkan presisi ketika fokusing, namun tidak cocok untuk menangkap objek yang bergerak dengan cepat. Lensa yang saya miliki putaran fokusing-nya cukup berat menunjukkan bahwa lensa ini perlu di CLA lagi. Pengaturan aperture dilakukan pada ring didepan dengan mencocokkan angka 2-22 dengan tanda panah merah . Yang menarik disini adalah, kita dapat membuat batasan F number yang akan digunakan, dengan menset batas aperture dengan cara menarik ring aperture ke arah belakang dan mencocokkan titik merah dengan F/number yang dikehendaki sebagai batas aperture.
Sharpness
Performa lensa ini cukup menjanjikan sebagai lensa (hampir) makro maupun lensa potrait. Saya katanya (hampir) makro karena dengan jarak terdekat (0,5 m) objek-objek seperti bunga-bungaan masih dapat terekam dengan baik dan indah. Di wide open agak soft namun masih sangat baik, tetapi stop-down mulai F/2.8 ketajammnya semakin menggigit.
Lensa Carl Zeiss Jena 58/2 Biotar T yang saya peroleh termasuk dalam kondisi ”Excellent” dengan artian bahwa kondisi body lensa yang masih relatif baik, yaitu goresan-goresan tipis yang ada masih dapat diterima mengingat umurnya yang relatif sudah uzur. Terdapat beberapa gelembung di optik dan beberapa debu kecil didalam elemen optik. tetapi tidak berdampak pada gambar yang dihasilkan. Lensa ini memiliki lensa ulir M42. Untuk dapat dipakai di kamera Canon EOS 30D saya, saya harus menggunakan adapter M42-to-EOS adapter, yang dilengkapi dengan focus confirmation chip yang saya peroleh dari www.tagotech.com Singapura.
Lensa ini meski hampir seluruh bodinya terbuat dari metal, namun masih relatif ringan dan pas untuk dipegang. Untuk melakukan fokusing, terdapat ring model belimbing yang lekukannya pas dengan penempatan ibu jari dan jari tengah untuk mengatur titik fokus. Yang unik disini adalah bahwa putaran fokusing-nya mendekati 360 derajat. Model ini sering disebut model long-throw. Dengan desain seperti ini dapat meningkatkan presisi ketika fokusing, namun tidak cocok untuk menangkap objek yang bergerak dengan cepat. Lensa yang saya miliki putaran fokusing-nya cukup berat menunjukkan bahwa lensa ini perlu di CLA lagi. Pengaturan aperture dilakukan pada ring didepan dengan mencocokkan angka 2-22 dengan tanda panah merah . Yang menarik disini adalah, kita dapat membuat batasan F number yang akan digunakan, dengan menset batas aperture dengan cara menarik ring aperture ke arah belakang dan mencocokkan titik merah dengan F/number yang dikehendaki sebagai batas aperture.
Sharpness
Performa lensa ini cukup menjanjikan sebagai lensa (hampir) makro maupun lensa potrait. Saya katanya (hampir) makro karena dengan jarak terdekat (0,5 m) objek-objek seperti bunga-bungaan masih dapat terekam dengan baik dan indah. Di wide open agak soft namun masih sangat baik, tetapi stop-down mulai F/2.8 ketajammnya semakin menggigit.

Tone
Tonal warna cenderung warm memiliki rendering warna yang halus. Kontras tidak over, namun bagi anda penyuka atau terbiasa lensa modern yang memiliki kontras tinggi, maka settingan kontras perlu ditambahkan. Berikut beberapa contoh tonal warna lensa. Setting kamera contrast 0 dan saturasi 0 semua.



Bokeh
Karakter bokeh lensa ini cukup diffused dan halus, namun memiliki signature yang khas. Pola bokehnya tidak berbentuk circular seperti pada umumnya fast lens, tetapi lebih berbentuk oval. Selain itu, dengan set-up posisi objek dan pilihan background yang tepat, maka akan diperoleh efek swirl pada areas OOF.
Akhir kata, lensa ini meski bukanlah lensa legendaris dan cukup mudah ditemukan di e-bay masih sangat layak untuk dimiliki. Bagi orang-orang yang memiliki selera image klasik (kontras minimal, warna alami tidak terlalu pekat, serta bokeh pattern yang unik) maka lensa inilah pilihannya. Alternatif lain yang lebih murah adalah lensa Helios-44 58/2 produksi Russia. Lensa Helios-44 58/2 merupakan copy dari 58/2 Biotar T dan cukup banyak ditemukan di pasar Indonesia.









1 komentar:
Nikmat sekali saya berlama-lama memperhatikan swirly bokeh dari lensa ber-blade 12 ini.. Seakan-akan seperti permainan olahan kuas yang di sengaja oleh seorang pelukis untuk mendramatisasi visual lukisannya.
Saya punya 'saudara kembar'-nya si MC Helios-44 58/2 tidak bisa menghasilkan bokeh seperti itu. :(
Good work Good Lense, Om Bob
iYus
Poskan Komentar