27.12.08

Battle of 50s #5 : Carl Zeiss Planar T* 50/1.7 (Contax)


Superb tonal rendering.. Beautiful bokeh

Sama seperti kebanyakan fotografer pemula, saya sudah lama meng-idola-kan lensa Zeiss sebagai lensa yang harus suatu saat dipunyai. Sayangnya, sekarang lensa Zeiss baru harganya mahal dan performanya pun sudah tidak lagi istimewa dibanding dengan lensa-lensa Canon L series. Ya betul.. teknologi lensa buatan Jepang memang sudah semakin bagus dan Carl Zeiss yang sekarang pun (Zeiss ZE untuk Canon) sudah buatan Jepang (Cosina) untuk menekan harga jual supaya bisa tetap eksis di pasar premium. Hal inilah yang buat sebagian kolektor lensa, menganggap bahwa lensa Zeiss sekarang kualitasnya tidak lagi sebaik dulu. Beberapa tipe lensa Zeiss Contax pun tetap menjadi incaran yang harganya jauh di atas harga lensa Zeiss generasi sekarang.

@ f/2.8

Lensa Carl Zeiss Planar T* 50/1.7 ini bukanlah lensa istimewa. Lensa ini adalah Zeiss 'murah' yang merupakan kit lens dari kamera Contax yang dijual tahun 80-90an. Normal lens Zeiss yang highly appraised adalah Planar T* 50/1.4. Dan yang benar-benar lensa koleksi adalah Planar T* 55/1.2, edisi spesial yang dikeluarkan dalam jumlah sedikit dalam rangka 100 Jahre Carl Zeiss Lens (Harga US$7000 - 9000). Lensa ini lebih banyak beredar diantara kolektor dibanding fotografer.

Planar merupakan nama dari desain konstruksi optik. Untuk Zeiss generasi ini, ada 4 yang populer, yaitu Distagon untuk lensa wide, Planar untuk normal dan short tele, Sonnar untuk tele, dan yang terakhir Vario-Sonnar untuk lensa zoom. Yang agak jarang adalah Tessar T*, mungkin Anda tahu lensa 'pancake' 45/2.8 (banyak 'ditiru' oleh merek Jepang) dan ada lagi Tele-Tessar. Sedangkan T* adalah istilah yang digunakan untuk teknologi multi-coating nya. Lensa-lensa Zeiss generasi ini dibuat di 2 negara. Tipe tertentu dibuat di negara asalnya, Jerman Barat, dan beberapa tipe lain dibuat di Jepang oleh Kyocera.

Untuk portrait, lensa ini lumayan tajam di f/1.7

SHARPNESS :
Zeiss Planar T* saya ini agak unik. Di bukaan penuh (f/1.7) hasilnya soft, tapi bagus untuk portrait jarak dekat. Di antara angka 1.7 dan 2.8 yang tertera di bodi, ada 1 klik lagi (orang biasa sebut f/1.8) yang hasil ketajamannya lebih baik daripada 1.7. Stop-down terus hasilnya semakin tajam dan resolusinya juga halus sekali.


Sharpness @ f/2.8


Sharpness @ f/4


Sharpness @ f/8

Saya belum pernah menggunakan diatas f/8 karena AF chip di adapter saya sudah tidak bisa berfungsi jika viewfinder gelap. Karena banyak foto portrait, saya lebih sering bermain antara f/1.7 sampai dengan f/2.8.


TONE & COLOR :
Nah ini yang membuat lensa Zeiss benar-benar istimewa.. rendering warna dan shadow yang bisa membuat objek in-focus 'stand-out' dan keseluruhan frame seperti gambar 3-dimensi.

@ f/4 - setting kontras, saturasi dan tone warna semua 0

Saya memiliki 4 lensa Zeiss generasi Contax ini, yaitu Distagon T* 35/2.8, Planar T* 50/1.7, Sonnar T* 85/2.8 dan Sonnar T* 135/2.8. Ke empat lensa ini menunjukkan kualitas color & tone rendering yang hampir sama, yaitu gradasi kontras yang 'deep', warnanya 'warm and rich' tapi tidak over kontras dan saturated. Perfectly balanced! Simply beautiful.

@ f/1.8 - Skin-tone natural dan shadow rendering nya membuat portrait berkesan lebih 'hidup'

@ f/1.7 - Saya suka menggunakan lensa ini untuk bermain dengan single lighting seperti ini karena gradasi kontrasnya sangat bagus buat selera saya

BOKEH :
Bokeh lensa Zeiss ini juga bagus, lebih bagus daripada lensa Canon dan Nikon milik Saya, dan hanya sedikit dibawah lensa Meyer-Optik dan Canon EF 85/1.2L saya dalam hal creamy dan softness. Background blur-nya benar-benar diffused dan bahkan seperti 'hilang'

bokeh @ f/1.7 - Sharpness memang soft di objek fokus, tapi saya suka sekali dengan background blur nya

bokeh @ f/1.8

bokeh @ f/1.7 perhatikan gradasinya yang halus di 3 sampel diatas, background seolah digambar dengan cat air


Tapi pastinya saat saya print foto di tempat komersial, staf yang melayani sering bertanya lensa apa yang saya gunakan karena kualitas warna dan bokehnya yang cantik.




Hmm... saran saya ke beberapa teman yang gemar berfoto adalah.. cari dan beli lensa Carl Zeiss. karena memang benar apa yang banyak dibilang orang banyak :

"You'll see the world nicer through a Zeiss lens"

21.12.08

Beauty in Black & White by lensamanual


Hitam akan selalu kelam tanpa putih...
dan putih akan tidak pernah berarti tanpa hitam.

Sejak saya kecil, foto hitam putih bukan seni yang asing. Saya masih ingat bagaimana dulu waktu kecil sering diajak ayah saya naik becak ke Tjandranaja, tempat para pecinta foto sering berkumpul dan pameran karya-karya foto mereka.

Ayah saya dulu memang hobi foto. Di rumah kita dulu, di lantai dek jemuran, dibikin ruang darkroom yang pengap, panas dan gelap, dan saya dulu suka diajarkan bagaimana cara menggunakan enlarger untuk mencetak foto.


Meyer-Optik Oreston 1.8/50 (m42) @ f/2.0, ISO 400
Tatyana di lobi utama lantai dasar yang eksotis dengan tembok bata dan jendela-jendela besar

Meyer-Optik Oreston 1.8/50 (m42) @ f/2.0, ISO 400
Tatyana di lokasi yang sama... Out of focus, tapi saya suka karena malah memberi sentuhan oldie yang romantis

Asahi Pentax S-M-C-Takumar 1.4/50 (m42) @ f/1.4, ISO 200
Tatyana di lokasi yang sama... Lensa ini pengganti flash karena tajam di bukaan penuh

Sabtu, 20 Desember 2008. Cuaca mendung diselingi gerimis kecil sejak pagi sampai sore. Saya berangkat untuk ikut hunting foto bersama tim dari Lensa.net di tempat yang belum pernah saya tahu sebelumnya, yaitu Museum Bank Mandiri di Kota Tua Jakarta. Tiba di sana, tempat eksotis ini langsung membuat saya terpesona. Bangunan luarnya tidak terlalu menonjol, tapi interior bangunan 3 lantai yang dibangun kolonial tahun 1920an (kalo nga salah) ini benar-benar anggun. Setiap sudut ruang dan taman terawat rapi dan bersih, lengkap dengan banyak koleksi artifak perbankan yang unik.

Lensa portrait yang legendaris : Helios-40 1.5/85 (m42) @ f/1.5, ISO 100
Tatyana di salah satu pintu-pintu kayu yang berjejer sepanjang koridor belakang


Carl Zeiss Sonnar T* 2.8/85 (Contax) @ f/2.8, ISO 200
Corridor taman belakang yang asri dan bersih

Carl Zeiss Sonnar T* 2.8/85 (Contax) @ f/2.8, ISO 200
Masih di koridor taman belakang di lantai atas

Carl Zeiss Sonnar T* 2.8/135 (Contax) @ f/2.8, ISO 200
Mega di koridor taman belakang di lantai atas

Hari itu saya membawa cukup banyak lensa manual, tapi karena cuaca yang tidak mendukung, akhirnya saya cuma bisa bermain dengan beberapa saja yang bisa digunakan untuk kondisi low-light. Saya memang membawa flash, tapi setelah beberapa kali mencoba dan hasilnya terlihat artificial, saya pun menyerah dan akhirnya hanya menggunakan lensa-lensa dengan f/kecil dan ISO 400 dan 800 sebagai pengganti flash.

Meyer-Optik Oreston 1.8/50 (m42) @ f/2.0, ISO 800
Mega di ruang Bank Vault di basement yang luas tapi gelap (diterangi lampu TL) dan panas

Carl Zeiss Planar T* 1.7/50 (Contax) @ f/1.7, ISO 400
Tatyana di tangga karyawan belakang

Carl Zeiss Planar T* 1.7/50 (Contax) @ f/1.7, ISO 800
Mega di tangga utama lobi

Saya suka foto berwarna, tapi foto Hitam Putih akan selalu menjadi seni foto yang paling saya nikmati. Tanpa jutaan warna. Cukup hanya hitam, abu dan putih yang harus bisa menyampaikan emosi sebuah objek foto. Sebuah seni klasik yang tidak akan pernah hilang oleh jaman dan teknologi.

Carl Zeiss Planar T* 1.7/50 (Contax) @ f/1.7, ISO 800
Mega di tangga utama lobi

Great event from Lensa.net and team of Jetrisno & friends.

10.12.08

Battle of 50s #4: Asahi (Pentax) S-M-C-Takumar 50/1.4


Sharp @ wide-open! a good performer in low light

Lensa legendaris ini belum lama Saya miliki, tapi sekarang menjadi lensa 50mm yang paling sering terpasang di 450D Saya. Bentuknya kecil (filter size khas Pentax.. 49mm), bodi mantap dan kuat karena terbuat dari metal, tanpa ada plastik, tapi bobotnya cukup ringan. Putaran fokusnya ringan tapi mantap dan presisi. Dan performanya? Muantabz!!! apalagi harganya juga cukup terjangkau buat Saya.

High quality for less money! inilah yang bikin lensa ini banyak diminati orang. Di hampir semua review dan forum tentang lensa ini, belum pernah saya temukan pendapat yang bilang lensa ini tidak bagus.


Sering kali, Saya print hasil fotonya ke tempat cuci-cetak komersil, saat orang melihat hasil print (biasanya saya print ukuran minimal 8R - 20 x 25 cm) suka bertanya kamera atau lensa apa yang saya pakai; atau bertanya apakah saya adalah fotografer pro. Hahahaahahahaaaa...

Singkat kata, kalau Anda ingin punya lensa manual yang bisa tajam di f/1.4, bokehnya bagus, bentuknya praktis buat dibawa traveling, bagus buat portrait, landscape bahkan low-light, dan harganya terjangkau.... nah ini dia pilihannya.

Low-light di dalam restoran dengan bukaan f/1.4, speed 80, ISO 400
Performanya yang bagus di open-wide pas dengan selera saya yang tidak suka membawa flash

Tajam di bukaan penuh dan bokeh yang lumayan halus

SHARPNESS : Dari semua lensa 50mm yang saya punya (semuanya f/ di bawah 2), lensa buatan tahun 1971 inilah yang punya kemampuan tajam di open-wide. Ya betul.. diadu dengan Canon EF 50/1.4 yang buatan tahun 2007 sekalipun... dengan harga yang 3X lipat lebih mahal! Apalagi untuk portrait, tajam tapi masih soft untuk tone kulit wajah. Di f/4 - 5.6, tajam menjadi crisp (terlalu tajam buat portrait).


Di beberapa sample foto, tajamnya lebih dari bagus untuk f/1.4


Di beberapa sampel lain, terutama di bidang kontras, soft di f/1.4.
Walau begitu, untuk full-frame tanpa crop hasilnya paling tajam dibandingkan semua lensa 50mm Saya.


Akhirnya, setelah mencoba beberapa merek, saya berhasil punya lensa normal untuk portrait, yang bagus di f/1.4.
Lensa ini sekarang menjadi lensa manual yang paling sering nempel di kamera Saya.


Sharpness di f/4 - Tajam tapi resolusinya masih kalah dari Nikkor 50/1.4 AiS yang lebih halus.
Wajarlah.. beda teknologi dua dekade.. Pentax 1970an vs. Nikkor 1990an.

TONE & COLOR :
Tone warnanya lembut khas Pentax SMC dengan saturasi warna yang tidak over kontras. Mungkin buat tone dan warna saya masih memilih lensa-lensa Eropa. Tapi dibanding Nikon dan Canon saya, lensa Pentax lebih soft atau mendekati karakter lensa Eropa.

Ini foto di dalam restoran (agak temaram), jadi warna tidak asli, sudah saya rubah di software DPP

Warnanya natural, khas Pentax... tidak over saturated

BOKEH : Untuk bokeh, Saya menilai belum sebagus Carl Zeiss dan Orestor, tapi lumayan baguslah.
f/1.4
Saya suka bermain bokeh dengan lensa ini untuk background yang tidak kontras gelap dan terangnya. Karena jika di background OOF ada yang kontras atau garis-garis tegas, hasil bokehnya pun kurang menarik karena tidak soft and creamy.



f/1.4

Agak sulit untuk fokus karena DoF yang sangat dangkal. Tapi kalau dapat fokus tepat, hasilnya bagus sekali untuk f/1.4

Saya rasa Saya tidak perlu menulis banyak tentang lensa ini. Saya yakin semua foto ini sudah bisa membuat Anda mengambil kesimpulan bahwa lensa ini memang spesial. Tidak luar biasa, tapi spesial. Dan, saya ulang lagi, performa bagus dengan harga yang terjangkau.

S-M-C Takumar 50/1.4, Super-Takumar 105/2.8, Super-Takumar 135/3.5, S-M-C Takumar 35/2.0

Pentax mulai memproduksi peralatan fotografi tahun 1951. Waktu itu, hampir semua pembuat kamera berkonsentrasi pada kamera format medium dan rangefinder. Pentax maju dan merupakan satu-satunya perusahaan kamera yang melakukan riset dan pengembangan serius terhadap kamera SLR (Single Lens Reflex) mulai dari film 110 sampai dengan 6x7. Hasilnya adalah kamera Asahiflex (1954) yang sekarang menjadi barang koleksi karena reputasinya yang cemerlang di saat jayanya dulu. Era 60an - 70an, merek Pentax menjadi market leader untuk kamera SLR. Produksinya dalam sebulan masih melebihi produksi kamera Nikon dan Canon digabung!

Pentax sangat serius dalam pengembangan teknologi kamera SLR dan kontrol kualitas terhadap setiap produknya. Masterpiece teknologinya sangat banyak (baca ini). Beberapa yang Saya ambil dari artikel itu:

1. Lensa Super-Takumar 50mm f/1.4 (1964)
Lensa ini merupakan masterpiece di jamannya karena secara kualitas optik dan konstruksinya bisa melampaui semua kompetitornya. Lensa Pentax seri Takumar dan Super-Takumar adalah lensa dengan single layer of coating.
Perhatikan elemen ke 4 dan 5 yang berbentuk cekung dan cembung. Pabrikan lain biasa membuat elemen ini datar untuk menekan biaya produksi. Fitur ini menjadikan lensa Takumar 50mm mempunyai off-axis aberration correction yang lebih baik dan bokeh lebih bagus.

2. Lensa Super Multi Coated (1971)
Teknologi lapisan multi layer coating lensa Pentax adalah yang pertama di dunia, kualitasnya sangat hebat dan tidak bisa disaingi oleh produsen lain sampai beberapa tahun ke depan. Lensa versi ini memiliki kontras yang lebih baik serta kemampuannya melawan flare. Kemampuan inilah yang membuat lensa Pentax merupakan lensa terbaik untuk foto dengan situasi back-lit dibanding lensa merek apa pun, harga berapa pun. Sampai sekarang pun, teknologi multi-coating Pentax merupakan salah satu yang terbaik di dunia.

3. Lensa S-M-C Takumar 85mm f/1.8 (1973)
Lensa portrait dengan performa luar biasa. Lensa ini menjadi tolak-ukur produsen lensa lain dalam membuat lensa portrait 85mm. Hari ini lensa 85/1.8 ini merupakan lensa yang eksotis dan langka karena merupakan buruan kolektor lensa. Harganya jika ada pun tidak pernah saya temukan dibawah US$350. Saya pernah lihat di ebay kondisi mint, lengkap dengan asesoris orisinilnya, terjual seharga US$535 !!!! Saya pernah lihat bid lain lensa ini dalam keadaan rusak pun bisa terjual US$180.

4. Lensa SMC Pentax-A (1984)
Lensa Pentax seri ini merupakan seri lensa Pentax yang dianggap sebagian orang memiliki sharpness terbaik diantara versi Pentax lainnya, termasuk di bukaan penuh, dan harga terjangkau (barunya dulu). Lensa-lensa SMC Pentax-A 50/1.2, 85/1.4, 135/1.8 sampai sekarang juga merupakan barang langka bernilai tinggi. Harga lensa 50/1.2 di ebay minimal US$350.

Sample SMC P-FA 85/1.4... Coba cari yang bukaan f/1.4, luar biasa tajamnya. Kalo Anda kebetulan punya, berarti Anda memiliki salah satu lensa portrait terbaik di dunia.


Lensa Asahi (Pentax) cukup membingungkan karena banyak versinya. Saat pertama kali beli, Saya pun harus banyak membaca berbagai informasi tentang lensa-lensa Pentax.

Perkembangan lensa seri Takumar (mount M42):
1. Takumar (1957-1962) - Diafragma pre-set
2. Auto-Takumar (1958-1962) - Diafragma semi-otomatis
3. Super-Takumar (1962-1971) - Diafragma fully-automatic, single layer coating.
Kasat mata, lensa Super-Takumar bisa dibedakan dari refleksi warna kaca depannya yang amber (merah semu)

4. Super-Multi-Coated Takumar (1971-1976) - Teknologi dan optik sama dengan Super-Takumar, tapi sudah multi layer coating. Versi ini ada 2 nama, yaitu tertulis panjang seperti diatas, yang oleh kolektor, biasa disingkat menjadi S-M-C Takumar, dan produksi di akhir periode tertulis SMC-Takumar.
Kasat mata, lensa ini bisa kita bedakan dari refleksi kaca depan yang berwarna cyanish green (biru kehijauan).


Asahi (Pentax) menerapkan kontrol kualitas yang sangat ketat. Hal ini membuat lensa-lensa Pentax dikenal sangat bagus (saya suka focusingnya yang ringan tapi presisi), kualitas konsisten dan seragam (hampir tidak mengenal istilah "good copy" atau "bad copy" di lensa Pentax), built quality kuat tahan lama (banyak seri Super-Takumar yang sekarang masih berkondisi mint) dan finishing yang bagus (saya suka warna dan desainnya yang simpel elegan).

Memang nga salah kalo banyak fotografer yang bilang:
"The love for manual lenses is incomplete without a pentax lens"



Interesting readings on Pentax cameras and lenses:
http://www.luminous-landscape.com/columns/sm-02-11-24.shtml

4.12.08

Battle of 50s #3: Schneider-Kreuznach Xenon 50/1.9


Excellent Sharpness and Beautiful Natural Color

Lensa ini adalah lensa manual yang paling sering terpasang di kamera Saya karena bentuknya yang mungil (Panjang hanya 37mm) dibanding lensa 50mm lainnya dan kualitas hasil gambar yang sangat bagus menurut selera Saya. Di artikel lama, saya sudah pernah mengulas lensa ini, tapi di review kali ini sengaja saya tulis baru agar komparasi dengan lensa lain di Battle of 50s menjadi seimbang.

Bagi Anda yang belum atau kurang mengenal nama Schneider-Kreuznach, mungkin mengenal merek filter lensa B+W yang merupakan filter berkualitas yang lumayan mahal. Filter B+W adalah salah satu produk hasil buatan Schneider-Kreuznach Optik Jerman. Selain filter, produk lain dari S-K adalah lensa-lensa untuk kegunaan industri, medical, astronomi, kamera cinema dan kamera foto.

Perusahaan optik Schneider berdiri sejak tahun 1913 di Bad Kreuznach, Jerman, dan sebagai salah satu pabrik optik terbesar di dunia, namanya sama hebatnya dengan Carl Zeiss, Leica dan Angenieux. Sampai sekarang S-K masih memproduksi lensa foto berkualitas tinggi yang mahal harganya. Lensa-lensa lamanya masih banyak diburu kolektor seperti halnya Carl Zeiss dan Leica.




SHARPNESS:
Kekurangan lensa ini adalah ketajaman di open-wide (f/1.9), namun tetap acceptable. Baru di f/2.8 sharpness mulai ‘menggigit’ dan semakin hebat di f/4 hingga f/8. Untuk Saya yang banyak foto portrait anak-anak sendiri, diafragma ideal yang sering saya gunakan adalah antara f/2.8 sampai dengan 5.6, karena saya suka bermain dengan bokeh. Menurut Saya di ‘sweet-spot’ tersebut, foto wajah cukup tajam tapi tetap soft untuk tekstur kulit, dengan bokeh yang masih lumayan bagus.

Berikut ini adalah contoh ketajamannya di f/4 dan f/5.6:









TONE & COLOR:
Lensa ini memiliki karakter warna yang neutral atau kata iklan Fuji dulu… ‘seindah warna aslinya’. Tidak warm seperti Carl Zeiss. Tapi shadow rendering mirip dengan Carl Zeiss, membuat objek foto muncul seperti 3 dimensi. Kontras dan saturasi warnanya juga bagus dan pas dengan selera Saya yang tidak terlalu suka dengan warna-warna yang kontras. Penilaian Saya softness dari kontras nya lah yang bagus dan unik dibanding lensa merek lain, terutama lensa moderen yang berkontras tinggi.

Warna mainan yang sudah pudar sebagai perbandingan dengan warna mainan baru di foto bawah.
Lensa ini bisa 'menangkap' warna-warna dengan akurat.

foto indoor di dalam mall, dengan available tungsten lights, Auto WB


Warna daun sangat natural sesuai aslinya. Setting warna semua 0

Menurut Saya, karakter warna lensa-lensa Eropa ini memang khas. Lensa S-K saya ini adalah buatan tahun 1967 yang mana kala itu lensa-lensa Jepang banyak belajar dan meniru formula optic dan coating dari Eropa agar bisa bersaing dalam hal kualitas warna, kontras dan ketajaman. Dan bukan sebaliknya, seperti yang terjadi di jaman sekarang karena merek Eropa harus bersaing dalam harga. (Lensa Carl Zeiss modern dibuat oleh Cosina Jepang)

Skin tone juga natural dengan kontras yang lembut. Setting warna semua 0


BOKEH:
Urusan bokeh, menurut saya tidak istimewa, masih kalah bagus dibanding Carl Zeiss.

Bokeh f/1.9

Bokeh f/2.8


Secara keseluruhan, Schneider-Kreuznach Xenon ini kualitasnya hasil fotonya memang bagus, tetapi sayang performa di open-wide tidak sebagus di half-open. Padahal Saya mengharap kualitas lensa sekelas ini harusnya performanya optimal di semua aperture.

Yang pasti, sejak saya punya lensa Asahi Pentax S-M-C-Takumar 50/1.4, lensa S-K ini lebih banyak saya simpan di dry-box, bukan hanya karena untuk general use Takumar saya lebih tajam di bukaan besar, tapi alasan utamanya adalah sayang juga sering-sering memakai lensa S-K yang kondisinya mint karena collector value nya jauh lebih tinggi daripada Takumar.



Other reviews, literature and technicals of Schneider-Kreuznach Xenon:

http://www.schneideroptics.com/info/vintage_lens_data/small_format_lenses/xenon/data/1,9-50mm.html

http://www.schneiderkreuznach.com/index_e.htm

http://www.schneideroptics.com/

http://m42.artlimited.net/lens_detail.php?lid=439

http://forum.mflenses.com/schneider-kreuznach-xenon-50-1-9-t10151.html