25.11.08

Battle of 50s #2: Nikkor-S.C. 55/1.2


Artistically soft and dreamy.
Jika Anda adalah seorang 'sharpness fanatics' maka Anda akan menyesal jika membeli lensa ini. Menurut Saya lensa ini adalah salah satu lensa yang ideal untuk fine-art photography.

Seperti yang sering Saya lihat di portfolio banyak fotografer top dunia, ketajaman gambar bukan menjadi hal yang paling penting untuk mereka.
Buat fotografer umumnya, foto adalah rekaman visual yang mereka lihat. Tapi bagi seorang seniman foto, hasil foto adalah ekspresi dari fantasi atau mimpi akan sesuatu yang indah yang dilihat dan dibayangkan olehnya. Melalui fotonya, sebuah objek yang biasa-biasa bisa menjadi hasil foto yang unik dan indah untuk dinikmati. Jika Anda adalah salah satu dari seniman ini, maka lensa Nikon produksi mulai tahun 1972 - 76 ini layak untuk Anda koleksi.

f/1.2 uneditted (under-exposed)

Saya suka renderingnya yang artistik karena soft dan dreamy di open-wide. Veiling flare di sekeliling bidang terang juga menambah kesan romatis.

SHARPNESS:
Menurut ulasan di banyak forum, semua versi lensa Nikon 50/1.2, mulai dari Nikkor-S sampai dengan Ai-S, memang bukan di apresiasi oleh penggemarnya sebagai lensa yang tajam di wide-open f/1.2.

Jika yang Anda cari adalah sharpness di f/1.2, bisa mencoba Noct-Nikkor 58/1.2 yang hanya dibuat 12.000 copy dan harganya sekarang di ebay bisa mencapai US$ 4000. Lensa buatan antara tahun 1973 - 1999 ini dirancang untuk night shooting dan low-light photography, dengan desain optik khusus yang bisa optimal di semua aperture. Lensa lain yang juga terkenal tajam di open-wide adalah Minolta MC-Rokkor 58/1.2, MD-Rokkor 50/1.2, SMC Pentax-A 50/1.2, Contax Carl Zeiss 50/1.2. Semua lensa tersebut sekarang menjadi buruan para kolektor lensa dan penggila fast lens, dan harganya tidak pernah ada yang dibawah US$ 800.


Kembali ke Nikkor S.C milik teman Saya, seperti terlihat dari foto-foto dibawah, lensa ini baru mulai tajam di f/2.8. Saya tidak dapat memberi contoh di bawah f/5.6 berhubung AF chip di adapter Nikon - EOS tidak lagi bisa memberi signal fokus.

f/1.2

f/2.0

f/2.8

f/4.0

f/5.6

Menurut Saya, hasil foto di f/1.4 dan 2.0 unusable untuk pemakaian foto umum sehari-hari. Tapi bisa jadi lensa yang Saya pinjam ini memang kondisi optiknya sudah tidak bagus lagi, walau secara kasat mata optik masih bening dan bersih.


COLOR & CONTRAST:

Tone warna cenderung warm, tapi tetap neutral dengan rendering shadow yang tidak terlalu kontras.





Skin tone natural

BOKEH:
Saya suka dengan bokeh yang dihasilkan lensa ini. Mulai di f/2, detil di area out-of-focus sudah mulai diffused dan kemudian 'menghilang' di f/1.2. Lensa Nikon 50/1.2 memang banyak diminati fotografer karena bokehnya yang bagus.



Saya belum pernah mencoba Nikkor 50/1.2 Ai atau Ai-S yang merupakan versi moderen dari lensa ini. Saya yakin bahwa hasil foto lensa tersebut pastinya lebih baik dalam hal ketajaman, kontras dan sebagainya. Namun khusus untuk Nikkor-S.C. milik teman ini, Saya suka akan efek dreamy yang dihasilkannya. Memang lebih sering Saya menginginkan foto Saya tajam, tapi di satu dua kesempatan, foto yang soft dan creamy bisa memberi seni tersendiri. Kesannya seperti foto out-of-focus, tapi disitulah seninya. Salah satu kesempatan itu adalah untuk Saya belajar fine-art photography...



Other reviews, literature, history and technicals of Nikkor S.C 55/1.2 :
http://www.mir.com.my/rb/photography/companies/nikon/nikkoresources/50mmnikkor/indexA.htm

24.11.08

Battle of 50s #1: Nikkor 50/1.4 AiS


Amazingly sharp !!!!
Lensa ini baru beberapa hari saya beli melalui bursa fotografer lokal. Awalnya Saya kurang minat dengan lensa ini karena tidak memiliki karakter yang menonjol selain tajam mulai di f/2.8 sehingga user lebih prefer Nikkor 50/1.2 yang legendaris atau 50/1.8 yang lebih murah. Dari banyak forum di luar negeri saya nilai lensa ini kurang diminati. Saya tidak tahu di Indonesia, tapi saat ini cukup sering dijual bekas. Yang membuat Saya akhirnya memutuskan untuk membeli adalah karena kondisi lensa yang masih sangat bagus sekali (mint) dengan lens cap depan-belakang yang masih orisinil. Harganya cukup murah, tapi masih dalam kategori harga yang wajar.

SHARPNESS : Sesuai yang saya baca di review, performa lensa produksi mulai tahun 1983 (versi AiS) dan masih dijual baru sampai sekarang ini di wide-open tidak lebih baik dan juga tidak lebih buruk dari lensa lain. Tapi stop-down di f/2.8 ke bawah... wouw... very sharp!

ISO 100, f/1.8 Speed tidak tercatat
Sharpness di RAW conversion saja. Tidak ada editting apa pun di Photoshop kecuali crop dan resize.

Makro shot? Guess again!


ISO 100, f/4.0, jarak +/- 50 cm (jarak fokus minimum lensa)
Sharpness di RAW conversion saja. Tidak ada editting apa pun di Photoshop kecuali resize.


Satu lagi...

ISO 100, f/4.0, jarak 50 cm
Sharpness di RAW conversion saja. Tidak ada editting apa pun di Photoshop kecuali resize.

TONE & COLOR: Reproduksi warna yang dihasilkan lensa ini normal, kontras dan saturasi nya bagus. Tidak ada karakter yang menonjol dalam hal ini.

f/1.8, Setting warna, kontras dan saturasi : 0

f/2, ISO 100
Setting warna, kontras dan saturasi = 0. Tidak ada editting apa pun di Photoshop kecuali resize.

BOKEH:
Menurut Saya, karakter bokeh nya juga standar. Render gelap dan terangnya masih jelas terbaca, tidak diffused dan creamy seperti lensa the Bokeh Monster, Orestor 135mm.

f/1.4, ISO 100 (under-exposed tak disengaja)
Setting warna, kontras dan saturasi = 0. Tidak ada editting apa pun di Photoshop kecuali resize.

f/4, ISO 100
Setting warna, kontras dan saturasi = 0. Tidak ada editting apa pun di Photoshop kecuali resize.

f/2, ISO 100
Setting warna, kontras dan saturasi = 0. Tidak ada editting apa pun di Photoshop kecuali resize.

Dengan karakter yang seperti ini, lensa Nikkor 50/1.4 Ai-S ini saya rasa lebih tepat untuk digunakan sebagai lensa normal untuk dokumentasi acara yang mana sering Saya foto wide dulu kemudian Saya crop di photoshop bagian dari hasil foto tersebut. Ini sesuai dengan fungsinya yang memang dirancang oleh Nikon sebagai lensa fotografer jurnalis (wartawan).



Other reviews, literature and technical of Nikkor 50/1.4 AiS:
http://www.momentcorp.com/review/nikkor50mm1.4.html
http://khoking.photomalaysia.com/myphotography/mynikon/50mm14ais/index.htm

22.11.08

Battle of 50s


Mungkin Anda sudah sering membaca review tentang berbagai lensa. Begitu pun Saya. Kali ini Saya ingin mencoba membuat perbandingan tentang sedikit koleksi lensa 50 mm yang Saya miliki.

"Battle of 50s"... Hmm mungkin judul ini kurang sesuai dengan isinya karena di artikel ini Saya bukan mau memilih satu lensa sebagai yang terbaik, tapi mencoba menggali karakter masing-masing lensa 50mm koleksi Saya. Lagian, pastinya Saya tidak akan membeli sebuah lensa yang punya reputasi tidak bagus. So seharusnya koleksi Saya adalah lensa-lensa yang bagus (hehehe).

Alasan lain Saya tidak mau mencari tahu mana yang terbaik adalah karena masih banyak lensa-lensa 50mm lain yang legendaris yang rasanya tidak mungkin Saya miliki karena langka dan harganya yang amat sangat mahal. Atau, kalau pun ada lensa lain yang ingin dan mampu Saya beli tapi belum berhasil mendapat barang yang kondisinya bagus (mint). Selain itu, ada beberapa lensa legendaris yang mountingnya tidak 'EOS friendly' alias adapternya menggunakan optik untuk focus infinity (contoh: Minolta MD Rokkor). Saya tidak tertarik menggunakan adapter dengan optik karena pastinya akan mempengaruhi kualitas dari optik asli lensa.

Jika Anda penasaran ingin tahu lensa 50mm apa yang dianggap terbaik oleh fotografer dunia, mungkin diskusi forum ini bisa membuat Anda tertarik:
http://forum.manualfocus.org/viewtopic.php?id=11842&p=1
atau ini
http://www.pbase.com/carpents/nls

So... Untuk sementara Saya sudah puas dengan hanya 6 lensa 50mm yang sudah berhasil Saya dapatkan. Koleksi lensa 50mm yang akan dibahas di artikel ini adalah:

1. Canon EF 50mm f/1.4 : lensa native Canon auto-focus
2. Nikon Nikkor 50mm f/1.4 Ai-S
3. Asahi (Pentax) Super-Multi-Coated Takumar 50mm f/1.4
4. Nikon Nikkor S.C. 55mm f/1.2 : Lensa pinjaman dari seorang teman baik
5. Carl Zeiss Planar T* 50mm f/1.7 (Contax)
6. Schneider-Kreuznach Xenon 50mm f/1.9
7. Meyer-Optik Goerlitz Oreston 50mm f/1.8

Hal penting lain adalah, karena Saya menggunakan kamera Canon EOS 450D dengan crop factor 1.6X, maka lensa 50mm akan menjadi setara dengan 80mm di kamera full frame. Tentunya ini mempengaruhi keutuhan performa lensa yang digunakan. Semisal: sharpness edge-to-edge menjadi lebih baik di kamera Saya, begitu pula dengan CA dan vignette.

9.11.08

Beauty. By lensa manual


Sabtu 8 November lalu, Saya mengikuti workshop tentang penggunaan flash pada fashion fotografi yang diadakan oleh DnA photograpy event organizer. Workshop yang padat berisi banyak pengetahuan baru buat saya ini dibawakan dengan santai dan tak bertele-tele oleh Harry Subastian, Chief photographer majalah Harper's Bazaar Indonesia.

Workshop yang dimulai jam 9.30 ini terbagi menjadi 2 session, yaitu pagi untuk sedikit teori, dan praktek yang dimulai jam 1.30an sampai 5 sore. Cuaca hari itu sangat bersahabat. Matahari tidak bersinar terik, tapi berawan tipis sehingga sinarnya sangat pas untuk foto outdoor. Lokasi yang dipilih panitia juga bagus, yaitu Executive Club Hotel Sultan (ex Hilton), dimana session praktek ini diadakan di taman dan pool area yang asri.

Saya ikutan workshop ini karena ingin belajar menggunakan flash.. tapi saat praktek saya tidak berhasil maksimal karena saya tidak punya transmitter, jadi akhirnya lebih banyak tanpa flash. Lagi pula lighting alami sangat mendukung. So, saat peserta lain jeprat-jepret dengan flash, saya sibuk bermain-main dengan lensa manual dengan natural light yang memang pas buat portrait.

Ada 3 lensa manual yang saya bawa: Carl Zeiss Planar T* (Contax) 50mm f/1.7; Asahi Super-Takumar 105mm f/2.8; dan yang terpanjang, Meyer-Optik Orestor 135mm f/2.8.






Carl Zeiss Planar T* 50mm f/1.7 (Contax)
Empat foto diatas adalah hasil dari lensa Carl Zeiss buatan Kyocera Jepang. Saya bawa lensa 50mm untuk session ini karena di Canon 450D lensa ini menjadi lensa 80mm (crop factor 1.6X). Dari beberapa lensa 50 yang saya punya, lensa Carl Zeiss ini jarang Saya gunakan jadi kali ini saya coba mainkan.
Saya suka dengan render warna dan bokeh lensa ini (atau semua Carl Zeiss?) Tone warna romantically warm, tajamnya bagus, dan DoF yang bisa membuat seolah-olah 3D. Menurut komentar-komentar pemakai di internet, versi 50/1.7 ini masih kalah dibandingkan dengan versi 50/1.4 yang sedikit lebih mahal.
Hmmm.. Saya ingin sekali mencoba lensa 50/1.4 tuh, tapi susah mencarinya di Indonesia. Di Ebay, lensa 50/1.4 ini harganya sudah mahal karena banyak sekali peminatnya. Saya nilai harga lensa bekas (kondisi mint) US$250an, sedangkan harga 100% baru lensa Carl Zeiss Planar T* 50/1.4 (ZF untuk Nikon) di JPC baru Rp. 5 jutaan. Wah Saya lebih baik menunggu Zeiss (ZE) untuk Canon yang baru di launch di Photokina dong.
Tapi sementara, Saya sudah puas dengan 50/1.7 ini. Memang nga salah kalau Zeiss itu dewa optik, hehehehe..






Asahi Super-Takumar 105/2.8:
Lensa ini menurut Saya berkategori "lumayan" buat foto beauty portrait. Seperti yang bisa dilihat dari foto-foto di atas, lensa Asahi ini tajamnya bagus pada objek fokusnya (f/3.5 - 5.6). Namun area out-of-focus (bokeh) cenderung kasar, tidak creamy seperti pada lensa Carl Zeiss. Hal ini menurut Saya menjadikan foto portrait kurang romantis. Di artikel sebelumnya, Saya pernah mencoba wide-open tapi hasilnya menjadi terlalu soft, jadi kali ini saya hanya bermain di f/3.5 ke atas. Saya sudah sadar akan hal ketajaman dan bokeh ini melalui komentar-komentar di internet, tapi Saya suka dengan jarak focal 105mm untuk mengisi gap antara lensa 85mm (Canon EF) dan 135mm (Orestor). Untuk kontras, lensa ini soft, apalagi tanpa menggunakan lens-hood. Versi Saya adalah Super-Takumar yang mana coating masih primitif. Versi SMC Takumar (generasi lanjutannya) memiliki coating moderen yang lebih baik, membuatnya lebih high kontras. Buat Saya, masalah low kontras ini malah menjadi daya tarik, karena jika Saya ingin foto dengan kontras tinggi, Saya ada lensa EF Canon yang modern. Dengan lensa ini, Saya jadi punya alternatif lain untuk tone warna yang berbeda. Bisa dilihat dari foto-foto diatas, hasil foto portrait menjadi unik dan klasik, apalagi Saya memang mau bereksperimen dengan sinar flare. Tone warna unik, bentuk, ukuran kecil dan built-quality lensa ini sudah membuat Saya menyukai lensa Asahi Pentax, khususnya Super-Takumar. Saat ini Saya sedang hunting untuk 50mm dan 135mm. Dari banyak pemakai di internet, banyak yang setelah pertama mencoba lensa Takumar, langsung jatuh cinta dan ketagihan. Saya adalah salah satunya.








And the best of my portrait lenses is, Meyer-Optik Gorlitz Orestor 135/2.8:
Dari sedikit koleksi Saya, lensa buatan Jerman Timur ini adalah yang paling dahsyat untuk urusan bokeh. Di f/4 ke atas, bokeh dahsyat ini terpadu dengan ketajaman objek fokus yang bagus dan unik. Saya tambahkan unik karena objek fokus tajam tapi memiliki rendering yang soft. Efek ini membuat skin-tone dan detil rambut menjadi indah dilihat. Jarak focal yang 135mm di kamera saya menjadi 216mm. Jarak ini ideal sekali untuk foto portrait tanpa membuat si model berpose. Buat Saya candid lebih menarik karena ekspresi natural-nya. Apalagi Saya hobi portret anak-anak Saya, jadi jarak jauh tidak mengusik mereka.


Anyway... It was a great event. Bravo Alfred and the team of DnA....