9.11.08

Beauty. By lensa manual


Sabtu 8 November lalu, Saya mengikuti workshop tentang penggunaan flash pada fashion fotografi yang diadakan oleh DnA photograpy event organizer. Workshop yang padat berisi banyak pengetahuan baru buat saya ini dibawakan dengan santai dan tak bertele-tele oleh Harry Subastian, Chief photographer majalah Harper's Bazaar Indonesia.

Workshop yang dimulai jam 9.30 ini terbagi menjadi 2 session, yaitu pagi untuk sedikit teori, dan praktek yang dimulai jam 1.30an sampai 5 sore. Cuaca hari itu sangat bersahabat. Matahari tidak bersinar terik, tapi berawan tipis sehingga sinarnya sangat pas untuk foto outdoor. Lokasi yang dipilih panitia juga bagus, yaitu Executive Club Hotel Sultan (ex Hilton), dimana session praktek ini diadakan di taman dan pool area yang asri.

Saya ikutan workshop ini karena ingin belajar menggunakan flash.. tapi saat praktek saya tidak berhasil maksimal karena saya tidak punya transmitter, jadi akhirnya lebih banyak tanpa flash. Lagi pula lighting alami sangat mendukung. So, saat peserta lain jeprat-jepret dengan flash, saya sibuk bermain-main dengan lensa manual dengan natural light yang memang pas buat portrait.

Ada 3 lensa manual yang saya bawa: Carl Zeiss Planar T* (Contax) 50mm f/1.7; Asahi Super-Takumar 105mm f/2.8; dan yang terpanjang, Meyer-Optik Orestor 135mm f/2.8.






Carl Zeiss Planar T* 50mm f/1.7 (Contax)
Empat foto diatas adalah hasil dari lensa Carl Zeiss buatan Kyocera Jepang. Saya bawa lensa 50mm untuk session ini karena di Canon 450D lensa ini menjadi lensa 80mm (crop factor 1.6X). Dari beberapa lensa 50 yang saya punya, lensa Carl Zeiss ini jarang Saya gunakan jadi kali ini saya coba mainkan.
Saya suka dengan render warna dan bokeh lensa ini (atau semua Carl Zeiss?) Tone warna romantically warm, tajamnya bagus, dan DoF yang bisa membuat seolah-olah 3D. Menurut komentar-komentar pemakai di internet, versi 50/1.7 ini masih kalah dibandingkan dengan versi 50/1.4 yang sedikit lebih mahal.
Hmmm.. Saya ingin sekali mencoba lensa 50/1.4 tuh, tapi susah mencarinya di Indonesia. Di Ebay, lensa 50/1.4 ini harganya sudah mahal karena banyak sekali peminatnya. Saya nilai harga lensa bekas (kondisi mint) US$250an, sedangkan harga 100% baru lensa Carl Zeiss Planar T* 50/1.4 (ZF untuk Nikon) di JPC baru Rp. 5 jutaan. Wah Saya lebih baik menunggu Zeiss (ZE) untuk Canon yang baru di launch di Photokina dong.
Tapi sementara, Saya sudah puas dengan 50/1.7 ini. Memang nga salah kalau Zeiss itu dewa optik, hehehehe..






Asahi Super-Takumar 105/2.8:
Lensa ini menurut Saya berkategori "lumayan" buat foto beauty portrait. Seperti yang bisa dilihat dari foto-foto di atas, lensa Asahi ini tajamnya bagus pada objek fokusnya (f/3.5 - 5.6). Namun area out-of-focus (bokeh) cenderung kasar, tidak creamy seperti pada lensa Carl Zeiss. Hal ini menurut Saya menjadikan foto portrait kurang romantis. Di artikel sebelumnya, Saya pernah mencoba wide-open tapi hasilnya menjadi terlalu soft, jadi kali ini saya hanya bermain di f/3.5 ke atas. Saya sudah sadar akan hal ketajaman dan bokeh ini melalui komentar-komentar di internet, tapi Saya suka dengan jarak focal 105mm untuk mengisi gap antara lensa 85mm (Canon EF) dan 135mm (Orestor). Untuk kontras, lensa ini soft, apalagi tanpa menggunakan lens-hood. Versi Saya adalah Super-Takumar yang mana coating masih primitif. Versi SMC Takumar (generasi lanjutannya) memiliki coating moderen yang lebih baik, membuatnya lebih high kontras. Buat Saya, masalah low kontras ini malah menjadi daya tarik, karena jika Saya ingin foto dengan kontras tinggi, Saya ada lensa EF Canon yang modern. Dengan lensa ini, Saya jadi punya alternatif lain untuk tone warna yang berbeda. Bisa dilihat dari foto-foto diatas, hasil foto portrait menjadi unik dan klasik, apalagi Saya memang mau bereksperimen dengan sinar flare. Tone warna unik, bentuk, ukuran kecil dan built-quality lensa ini sudah membuat Saya menyukai lensa Asahi Pentax, khususnya Super-Takumar. Saat ini Saya sedang hunting untuk 50mm dan 135mm. Dari banyak pemakai di internet, banyak yang setelah pertama mencoba lensa Takumar, langsung jatuh cinta dan ketagihan. Saya adalah salah satunya.








And the best of my portrait lenses is, Meyer-Optik Gorlitz Orestor 135/2.8:
Dari sedikit koleksi Saya, lensa buatan Jerman Timur ini adalah yang paling dahsyat untuk urusan bokeh. Di f/4 ke atas, bokeh dahsyat ini terpadu dengan ketajaman objek fokus yang bagus dan unik. Saya tambahkan unik karena objek fokus tajam tapi memiliki rendering yang soft. Efek ini membuat skin-tone dan detil rambut menjadi indah dilihat. Jarak focal yang 135mm di kamera saya menjadi 216mm. Jarak ini ideal sekali untuk foto portrait tanpa membuat si model berpose. Buat Saya candid lebih menarik karena ekspresi natural-nya. Apalagi Saya hobi portret anak-anak Saya, jadi jarak jauh tidak mengusik mereka.


Anyway... It was a great event. Bravo Alfred and the team of DnA....




1 komentar:

Peter Chandra mengatakan...

Wah Ulasan yang begitu detail dengan contoh foto, membuat mudah dimengerti. salam P C