18.10.11

Canon 5D Mark 2 vs. Mamiya 645AFD


How good is a digital medium format camera? hhmm...

Thanks to a good friend, saya berkesempatan menjajal kamera digital medium format. Sebenarnya saat itu ada 2 kamera yang bisa dicoba, yaitu Mamiya 645AFD + lensa kit AF 80/2.8 + Leaf Aptus 75 (33 mpx) dan satu lagi adalah Hasselblad 503CW + lensa kit Planar 80/2.8 + Leaf Aptus 65 (28 mpx) tapi malang Hasselblad nya bermasalah dengan kabel koneksi digital back to lensa nya. Jadi saya cuma bisa bermain dengan Mamiya saja..

Supaya tidak malu datang ke studio dengan lenggang kangkung tanpa bawa kamera, saya pun membawa Canon 5D-II + lensa Schneider Kreuznach TC-TS Super Angulon 50/2.8. Kenapa saya bawa lensa itu? Karena saya mau membandingkan dengan lensa 50mm yang dirancang dari lensa medium format untuk DSLR dan lensa yang asli untuk medium format. Lensa 80mm di medium format equivalen dengan lensa 50mm di kamera 35mm format. Karena sebenarnya tujuan saya adalah ingin tahu seberapa jauh keunggulan kualitas hasil dari sensor 6x45 dibanding sensor 35mm, bukan membandingkan lensanya.

Hasilnya?


Mamiya 645AFD Leaf Aptus 75 + 80/2.8 @ f/11
Ruuaaar biasaaa memang resolusi dan dynamic range sensor besar!


Mamiya 645AFD Leaf Aptus 75 + 80/2.8 @ f/11
Image crop dari foto diatas.

Canon 5D-II + Schneider Kreuznach PC-TS Super Angulon 50/2.8 @ f/8
crop dari image foto dibawah

Camera sharpness set 0


Schneider Kreuznach PC-TS @ f/8
no tilt nor shift.. Untuk pemakaian studio dengan lampu-lampu, sharpness dan detil dari lensa ini benar-benar super!

Schneider Kreuznach PC-TS @ f/8
Bermain tilt efek sehingga DoF menjadi sempit dan selektif hanya di mata model. Tapi berhubung menggunakan f/8, maka ruang tajam masih cukup lebar untuk menjadikan wajah tajam semua dan blur mulai di dada hingga tangan model.

Thanks to Heru, Alfred and model Dewi for the wonderful session!

27.8.11

Schneider Kreuznach PC-TS Super Angulon 50/2.8 HM


The image above is a cropped from the full size image shot @ f/8 below:


Let's zoom in more...

Impressive details huh?
Semua foto-foto disini hanya menggunakan default kamera, AWB, color profile standard, saturation 0, contrast 0, sharpness 5 (out of 10)


Sudah setahun lalu saya menunggu kehadiran lensa ini.. Selama 6 bulan terakhir, saya berusaha mencari referensi dan sample foto dari lensa buatan Jerman yang baru release awal 2010, tapi tidak ada yang pernah mengulas atau posting hasilnya di dunia maya. Kalaupun ada hanyalah press release dari produsen saat launching lensa ini di Photokina 2010. Lensa tilt-shift ini adalah lensa Schneider pertama yang dirancang khusus untuk DSLR. Schneider adalah produsen lensa performa tinggi untuk kamera medium dan large format sejak jaman dulu. Hal inilah yang membuat saya penasaran sekali untuk mencobanya di Canon 5D Mark 2. Dan akhirnya melalui seorang teman di Jerman, saya pun berhasil mendapat lensa ini.

@ f/8. DI TMII sekarang banyak sekali spot yang menarik dan unik

@ f/11, shift 3 mm kearah atas

Crop sudut kiri bawah dari foto diatas. @ f/11 tulisan merek pada tas putih masih bisa terbaca jelas.

Lensa tilt-shift Schneider seri ini hadir dengan 2 varian, yaitu Super Angulon 50/2.8 dan Makro Symmar 90/4.0. Dan tersedia dalam mounting Canon EOS, Nikon, Sony Alpha atau Pentax K. Lensa ini pengoperasiannya adalah full manual, tanpa ada AF confirm dan diafragma dengan fitur pre-set. Dibandingkan lensa TSE Canon, lensa Schneider ini handlingnya tidaklah semudah mengoperasikan Canon TSE. Setting tilt dan shift semuanya dalam bentuk gelang di lensa, seperti halnya gelang ring fokus, diafragma dan pre-set diafragma. Cukup memusingkan saya saat pertama kali mencobanya. Total semuanya ada 7 gelang untuk setting lensa.

The perfect match for my Canon 5D-II. Big, Bold, Beautiful..

Tampak dari depan, diameter filter 95 mm menutupi kameranya. Bukan dikarenakan distorsi menggunakan lensa wide, foto ini saya ambil menggunakan lensa 45 mm di kamera crop 1.5x

Posisi normal

Posisi full shift untuk koreksi perspektif

Posisi full tilt untuk memperlebar/mempersempit depth of field (DoF)

Leica M9 + Summicron-M 35/2 ASPH (ring filter 39 mm) vs. Canon 5D-II + Schneider PC-TS Super Angulon 50/2.8 (ring filter 95 mm). the Beauty and the Beast !

Membaca dari uraian teknisnya, lensa Schneider PC-TS mempunyai kelebihan dibanding lensa Canon TSE dan Nikon PC, yaitu ukuran optik yang lebih besar sehingga hasil foto yang dihasilkan akan tetap prima tanpa ada vignet atau degradasi kualitas ketajaman dan CA saat lensa diposisikan full tilt atau full shift. Dan memang benar begitu. Ukuran diameter lensa depan yang sangat besar (95 mm!) dan berat lensa 1,4 kg memang bukan sekedar gimmick. Hasilnya bisa anda nilai sendiri dari beberapa foto-foto dibawah ini yang merupakan hasil hunting di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Jajal untuk bermain portrait dengan bukaan penuh f/2.8, full tilt 8 derajat untuk mempersempit DoF. Dengan posisi lensa full tilt sekalipun, tidak ada vignet dan degradasi kualitas di sudut-sudut foto.

Close-up dari foto diatas. Di bukaan f/2.8 ada sedikit glow walaupun tetap tajam dan detil terekam dengan baik. Mungkin karena lensa 50mm maka dirancang agar selain untuk kebutuhan arsitektur & produk, juga bisa digunakan untuk portrait.

@ f/2.8 membuat foto terkesan lebih berdimensi dengan bokehnya yang halus

@ f/8, tajam, detil dan warnanya natural. What you see is what you get!

Detilnya benar-benar impresif. Hampir semua merek lensa Tilt-Shift memang punya resolusi yang sangat baik
untuk merekam detil yang kecil sekalipun.


Museum Transportasi

@ f/8, shift 4 mm kearah atas, tilt 0 Dengan bukaan f/8, sudah bisa membuat DoF cukup lebar hingga ke ujung rel di latar depan.
Titik fokus adalah titik merah di moncong lokomotif.


@ f/2.8 (open-wide), shift 2mm, tilt 2 derajat. Bermain tilt ke arah kanan (objek) untuk memperlebar DoF sehingga tulisan grafiti terbaca jelas
walau posisi kamera tidak tegak-lurus ke objek in-focus





Thanks to Alfred & Ren yang sudah menemani hunting seharian di TMII.

19.4.11

Contax G Carl Zeiss Sonnar 90/2.8


Dulu saya sering sekali mendengar pujian-pujian akan hasil foto sistem kamera Contax G. Di tahun 80an sistem Contax G adalah satu-satunya rangefinder dengan kemampuan auto-fokus. Kebetulan ada yang menjual sistem ini lengkap dengan lensa-lensanya. Dan untuk memuaskan rasa penasaran, saya pun membeli 3 lensanya saja, yaitu Biogon 28/2.8, Planar 45/2 dan Sonnar 90/2.8 ini. Saya tidak membeli bodinya karena lensa-lensa ini akan saya gunakan ke bodi Sony NEX-5 dengan bantuan adapter Metabones.





Lensa Sonnar 90 saya ini dilengkapi dengan hood original Contax GG-3
sehingga aman untuk bermain melawan sinar matahari.


Performa lensa Sonnar 90/2.8 ini memang superb! Sharp, kontras tinggi, resolusi detilnya tinggi dan rendering bokehnya juga lumayan bagus. Hasil bagus sudah bisa dinikmati bahkan di bukaan terbesarnya (f/2.8). Dan saya menikmati sekali memainkan lensa-lensa Contax G ini di bukaan penuh atau 1 stop diatasnya. Saya tidak perlu untuk menutup diafragma lebih jauh dari f/4 untuk hasil optimal. Kesan 3D terlihat sekali pada hasil foto-fotonya.

Menurut saya, dengan harganya yang relatif murah dibanding lensa Zeiss terbaru ZM atau LEICA, lensa-lensa Contax G benar-benar memuaskan.






22.2.11

Leitz Wetzlar Summilux-M 50/1.4 Type II


Leica Leitz Wetzlar Summilux-M 50/1.4 on SONY NEX-5
Open wide, ISO 200

Cropped dari gambar diatas

This is an old Leica Summilux lens for M series. Saya gunakan lensa ini pada kamera SONY NEX-5 dengan adapter Metabones (L/M - E mount) buatan Jepang. DI kamera imut NEX, lensa ini terasa mantap walau berukuran kecil, tapi pas dibodi NEX.

Berdasarkan nomor serinya, lensa Saya ini buatan tahun 1969 dan disebut Type II. Filter size E43, dengan hood terpisah (type 12586). Walau tua, dan juga kondisi lensa yang sudah bukan mint, lensa saya ini masih mampu memberikan hasil gambar yang tajam dan kontras. Bahkan dibukaan penuh sekalipun.

Open wide, ISO 800, no edit

Cropped dari gambar diatas, no sharpening

Tone BW yang indah & pekat, khas Leica tua @ f/2, ISO 800, no editing

Cropped dari gambar diatas, no sharpening

Ternyata memang berbeda lensa Leica untuk kamera R dan M. Jika dilihat dari posting saya sebelumnya, Summilux-R saya dengan teknologi terbaru (E60) diadu dengan lensa Summilux-M buatan tahun 1969 ternyata tidak berbeda jauh dalam hal ketajaman. Yang buat saya terasa beda adalah Summilux-R terasa lebih "bening".


@ f/2

@ open-wide. Color tone edited

22.1.11

Leica Summilux-R 50/1.4 E60

Leica Summilux-R 50/1.4 @ f/1.4

Sudah cukup lama saya tidak berfoto-foto.. Kebetulan baru dapat lensa idaman, Leica Summilux-R 50/1.4 E60 yang banyak dikagumi orang. Memang ga salah.. lensa ini adalah lensa 50mm f/1.4 tertajam di open-wide yang pernah saya coba. Now it definitely stays as my favorite!

@ f/2



Warm yellow tone from interior lightings



My Baby girl, shot @ open-wide